Rumah Adat Jawa Tengah (Joglo) dan 6 Arsitektur Terkenal Sederhana

Rumah Adat Jawa Tengah (Joglo) dan 6 Arsitektur Terkenal Sederhana

OMAH JOGLO DAN ENAM RUMAH ADAT JAWA TERKENAL – Rumah adat di Indonesia memanglah memiliki berbagai ciri khas yang berbeda-beda. Contonya seperti di pulau jawa yang memiliki enam rumah adat yang paling terkenal. Dan dari enam rumah tersebut ada salah satu yang menjadi peran utama rumah adat jawa. Oke, selamat membaca … !!

Rumah Adat Jawa Tengah (Joglo) dan 6 Arsitektur Terkenal Sederhana


Sejarah Rumah Adat Jawa

Orang-orang jawa memiliki kerabat dekat dengan bangsa Austronesia. Seperti Relief di Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9, menunjukkan pola dasar bangunan dari rumah Autronesia.

Orang Eropa yang datang pada abad 16 dan 17 memperkenalkan batu dan bata dalam pembuatan konstruksi rumah, yang sering digunakan oleh orang-orang kaya. Dan juga bentuk dari arsitektur rumah adat jawa mulai memengaruhi perkembangan arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia.

Pada saat abad ke 19, kebanyakan rumah di Hindia Belanda menyerupai rumah adat jawa karena mampu melawan panas tropis dan hujan lebat. Dan juga dapat memberikan aliran udara yang stabil pada bagian dalam rumah.

Baca Juga : Tips Menjadi YouTuber Sukses!

 

6 Rumah Adat Jawa yang Paling Terkenal di Setiap Provinsi

Di dalam pulau jawa terdapat enam rumah adat tradisional yang sangat terkenal. Rumah adat yang terkenal ini sering digunakan dan paling dikenal oleh masyarakat luas pulau jawa. Berikut adalah informasi mengenai enam rumah adat yang paling terkenal di jawa :

1. Rumah Adat Joglo Situbondo – Jawa Timur

Rumah Adat Joglo Situbondo - Jawa Timur

Rumah Joglo Situbondo merupakan sebuah rumah adat yang sangat terkenal pada masa silam. Gaya arsitektur rumah ini digunakan oleh masyarakat Jawa Timur karena terkagum akan filosofis yang terkandung di dalamnya.

Akan tetapi bukti kegemilangan rumah adat nenek moyang ini semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Hingga semakin sulit untuk menemukan rumah adat Joglo semacam ini.

 

2. Rumah Adat Joglo – Jawa Tengah

Rumah Adat Joglo - Jawa Tengah

Rumah adat Joglo jawa tengah merupakan filosofi pertama dari rumah Joglo di provinsi lainnya. Nah, rumah adat Joglo Jawa inilah yang akan dibahas secara rinci pada artikel ini. Oleh karena itu pembahasan akan dibahas setelah 6 rumah adat jawa yang terkenal ini.

 

3. Rumah Adat Joglo Bangsal Kencono – Jogja (Yogyakarta)

Rumah Adat Joglo Bangsal Kencono - Jogja (Yogyakarta)

Rumah Adat Joglo Bangsal kencono ini dikenal sebagai tempat tinggal Raja. Bansal Kencono sekilas sangat mirip dengan rumah adat Joglo, akan tetapi ukurannya sedikit lebih luas. Namun secara umum masih memiliki desai yang sama dengan rumah adat di jawa.

 

4. Rumah Adat Keraton Kasepuhan – Jawa Barat

Rumah Adat Keraton Kasepuhan - Jawa Barat

Rumah adat Keraton Kasepuhan merupakan keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Keraton ini merupakan kerajaan islam tempat para pendiri cirebon bertahta. Disinilah pusat dari pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri.

Keraton ini juga memiliki museum yang cukup lengkap yang berisi pusaka serta lukisan koleksi kerajaan. Salah satunya adalah kereta Singa Barong yang merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati.

 

5. Rumah Adat Kebaya – Jakarta

Rumah Adat Kebaya - Jakarta

Rumah adat Kebaya ini merupakan nama rumah adat dari suku betawi. Atap rumah inio menyerupai pelana yang sedang dilipat dan jika dilihat dari samping, maka lipatan tersebut terlihat seperti kebaya.

Ciri khas dari rumah adat Kebaya ini memiliki teras yang luas. Teras tersebut digunakan sebagai tempat untuk menjamu para tamu yang datang.  Hingga para tamu dapat bersantai dan membuatnya terasa nyaman.

 

6. Rumah Adat Badui – Banten

Rumah Adat Badui - Banten

Rumah adat badui ini merupakan desain pertama dari rumah adat yang lainnya. Karena secara keseluruhan, rumah ini terbuat dari bahan-bahan alami. bahan-bahan tersebut seperti bambu, batu, kayu dan ijuk.

Proses pembangunan rumah adat suku badui selalu dilakukan secara gotong royong. Bangunan ini terletak di bawah kaki gunung, sehingga pondasi rumah adat badui ini dibuat tinggi, membentuk panggung yang mengikuti tinggi rendahnya tanah.

Baca Juga : Cara Mudah Mendapatkan Uang dari YouTube

 

Rumah Adat Joglo (Rumah Adat Paling Terkenal di Pulau Jawa)

Rumah adat Joglo merupakan rumah tradisional yang paling terkenal dari semua rumah di pulau jawa. Rumah adat Joglo ini merupakan rumah tradisional dari Jawa Tengah. Tidak hanya jawa Tengah, namun juga terdapat di Jawa Timur serta Yogyakarta dengan ciri khas masing-masing.

Rumah adat Joglo ini dibangun berdasarkan keyakinan dan filosofi jawa. Nama yang diberikan pada rumah adat ini dikarenakan menyerupai dua gunung. Dua gunung ini disebut juga dengan taJUG LOro (Juglo) yang setelah itu, penyebutannya berkembang menjadi Joglo.

Pembuatan atap yang berbentuk gunung tersebut diyakini oleh masyarakat setempat sebagai tempat suci atau rumah para dewa. Ciri khas secara umum pada rumah Joglo memiliki pekarangan yang luas serta lapang tanpa di batasi oleh sekat.

Bangunan rumah adat ini memiliki bentuk persegi panjang, memiliki tiga pintu depan dan terdapat juga tiang yang diberi nama Soko Guru atau Saka Guru. Denah pada rumah Joglo ini memiliki bagian-bagian ruangan dengan nama yang unik, berikut adalah penjelasannya :

Video Terkait : NET JATENG – Sambang Sedulur rumah Joglo Arsitektur Jawa Untuk Dunia

Nama serta Fungsi Ruangan Rumah Adat Joglo

Pada ruangan rumah Joglo memiliki dua belas tempat dengan nama unik masing-masing. Nama-nama tersebut berupa Pendopo, Pringitan, Emperan, Omah Njero, Senthong Kiwo, Senthong Tengah, Senthong Tengen, Gendhok Kiwo, Gendhok Tengen, Pwon, Pekiwan, dan Seketheng.

1. Pendhapa atau Pendopo

Pendhapa atau Pendopo

Pendhapa atau Pendopo berasal dari kata Andhap yang memiliki arti “rendah”, karena terlihat lebih rendah dari rumah utama. Pendopo merupakan selasar rumah bagian depan yang tidak memiliki dinding, pagar ataupun sekat sehinggga merupakan ruangan terbuka. Ruangan terbuka inilah yang menjadi tempat tiang Soko Guru.

Pendopo ini pada umumnya sering di gunakan sebagai tempat penerimaan tamu. Kadang juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat latihan menari serta kegiatan yang lainnya. Pendopo ini juga menggambarkan falsafah penduduk jawa yang memiliki sifat ramah, terbuka, dan membebaskan/memberikan tempat bagi para tamu.

Keramahan juga terlihat dari tidak adanya kursi dan meja. Melainkan hanya menggunakan lantai yang dilapisi tikar agar suasana lebih santai dan akrab. Sehingga tidak membedakan status penghuni dengan para tamu. Lebih uniknya lagi, pintu rumah depan utama bukanlah dari pendopo ini, melainkan melewati pintu samping.

 

2. Pringgitan (Selasar Rumah Depan)

Pringgitan (Selasar Rumah Depan)

Pringgitan merupakan ruangan yang menyambung antara pendopo dengan rumah utama/rumah dalam/omah njero.  Pringgitan inilah yang merupakan ruangan ntuk penerimaan tamu atau saudara dekat dalam hubungn kekerabatannya.

Pada umumnya, pendopo dengan pringgitan tidak dibatasi oleh apapun sehingga kita dapat melihat rangan terbuka ini secara leseluruhan. Namun ada juga pringgitan yang diberi sekat atau sketsel dengan pendopo.

Namun pada batas antara omah njero/rumah bagian dalam dengan pringgitan, diberi sekat yang dinamakan gebyok. Masyarakat Jawa dahulu biasanya akan menggunakan pringgitan ini sebagai tempat menghelat pagelaran wayang kulit.

Pagelaran wayang kulit akan dinikmati penonton melalui pendopo, sehingga para penonton dapat leluasa duduk di sana. Oleh karena itu, sekat ini diberi nama Pringgitan yang memiliki kata dasar Ringgit, yang berarti Wayang.

Penggunaan Pringgitan ini menggambarkan falsafah orang jawa sebagai makhluk sosial, budaya, makhluk Tuhan. Karena ruangan ini dahulu pernah dimanfaatkan sebagai tempat upacara atau ruwetan kepada para dewa. Namun seiring berkembangnya agam islam, tempat ini sudah banyak di gunakan sebagai tempat beribadah.

3. Omah Ndalem atau Omah Njero (Rumah Bagian Dalam)

Omah Ndalem atau Omah Njero (Rumah Bagian Dalam)

Omah Ndalem atau Omah Njero ini memiliki arti Rumah Bagian Dalam, kadang disebut juga dengan omah mburi dan dalem ageng. Ruangan ini bisa dikatakan merupakan ruangnan inti/ruang utama dari bangunan rumah joglo ini.

Ruangan ini merupakan ruangan khusus yang digunakan para penhuni untuk bercengkrama dan bersantai bersama keluarga. Omah Njero ini terdiri dari ruang keluarga dan beberapa kamar yang disebut dengan Sethong.

Masayarak jawa dahulu membuat/membangun tiga sethong, yaitu sethong Kiwo, sethong Tengah, dan sethong Tengen. Namaun pada masa sekarang, masyarakat membuat sethong tersebut berdasarkan jumlah anggota keluarga.

 

4. Senthong Kiwa (Kamar Bagian Kiri)

Senthong Kiwa (Kamar Bagian Kiri)

Sethong Kiwa merupakan kamar yang berada di sebelah kiri omah njero. Sesuai dengan namanya “Kiwa” yang artinya “Kiri” dalam bahasa jawa. Karena sethong kiwa ini berada dekat dengan dapur sehingga digunakan sebagai tempat penyimpanan.

Penyimpanan yang sering dimasukkan ke dalamnya adalah bahan-bahan dapur seperti beras dan bumbu-bumbu dapur. Tak hanya itu, tempat ini juga digunakan untuk menyimpan alat-alat pertanian dan sejenisnya.

 

5. Senthong Tengah (Kamar Bagian Tengah)

Senthong Tengah (Kamar Bagian Tengah)

Sethong Tengah merupakan kamar yang paling disucikan dan disakralkan oleh pemilik rumah joglo ini. Sethong Tengah ini terletak di bagian tengah sehingga posisi inilah yang membuatnya sangat sakral.

Sethong Tengah ini juga tidak pernah digunakan untuk tidur dan sengaja dikososngkan oleh pemilik rumah tersebut. Biasanya didalamnya terdapat perlengkapan yang digunakan untuk melakukan upacara ritual.

Bagi masyarakat pedesaan dengan status ekonomi rendah, mereka menggunakannya sebagai tempat meja sesaji. Akan tetapi bagi para keturunan bangsawan maupun priyayi, sethong tengah ini diisi tempat tidur kecil lengkap dengan peralatannya seperti bantal, guling, kasur, dan sprei.

Sedangkan para bangsawan dengan status sosisal, mereka memiliki ukuran kamar yang lebih besar. Tempat tidur diberikan kelambu dan diletakkannya sepasang arca pengantin di depan kasurnya.

Sethong tengah ini hampir tidak ada cahaya yang masuk ke dalamnya karena terletak di bagian tengan. Sehingga inilah ciri khas utama dari sethong tengah tersebut. Pemilik rumah akan berdoa disana dalam keadaan gelap gulita, kondisi tersebut dinamakan pati geni.

Sethong tengah ini juga memiliki banyak nama istilah yang digunakan oleh masyarakat setempat. Berikut beberapa istilah yang sering di gunakan :

Krobongan

Krobongan berarti merupakan tempat pembakaran, berasal dari kata “Obong” yang berarti “Bakar”. Istilah tersebut diberikan karena tempat ini sering digunakan oleh pemilik untuk membakar kemenyan, tentu saja untuk melakukan upacara pemujaan kepada leluhurnya (pitra yadnya).

Parsen

Pasren/pepasren/sesaji ini merupakan bentuk dari kata pa-sri-an yang memiliki arti sebagai tempat Dewi Sri. Dewi Sri merupakan Dewi penguasa tanaman padi yang di yakini oleh penduduk terdahulu.

Saat musim panen tiba, seuntai padi yang pertama kali mereka potong akan di letakkan di sethong tengah. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan persembahan kepada Dewi Sri atas rasa syukur hasil panen mereka.

Pedaringan

Pedaringan juga sama seperti parsen. Nama ini berasal dari kata “Daring” yang memiliki arti “Gabah kering”. Istilah itu digunakan karena padi identik dengan Dewi Sri.

Sepen

Sepen merupakan tempat untuk menyepi. Seperti yang kami jelaskan sebelumnya, bahwa ruangan ini juga sering digunakan untuk bermeditasi, berdoa, sembahyang dalam keadaan gelap tanpa cahaya.

Sri

Terlihat dari namanya yaitu Sri, yang dimaksudkan sebagai tempat bertandangnya Dewi Sri. Keberadaan Dewi Sri ini diwujudkan dengan dibuatnya patung Loro Blonyo sebagai simbol kemakmuran.

 

6. Senthong Tengen (Kamar Bagian Kanan)

Senthong Tengen (Kamar Bagian Kanan)

Sethong Tengen yang berarti kamar berada di sebelah kanan, berasal dari kata bahasa jawa “Tengen” yang berarti “Kanan”. Pada umumnya tempat ini digunakan sebagai ruang tidur khusus yang sangat pribadi bagi pemiliknya.

Sethong Tengen ini berbeda dengan sethong-sethong lainnya. Sethong ini lebih multifungsi karena penduduk jaman dahulu memanfaatkannya sebagai tempat penyimpanan barang berharga.

Bagi masyarakat penduduk menengah ke atas, ruangan ini digunakan untuk menyimpan pakaian adat, perhiasan, keperluan acara seperti dupa dan kemenyan, serta barang pusaka seperti kris dan tombak yang disimpan di dalam lemari.

Untuk masyarakat menengah ke bawah, sethong tengen ini hanya digunakan sebagai tempat tidur orang tua saja.

 

7. Gandhok Kiwo dan Tengen (Ruang Depan Kiri dan Kanan)

Gandhok adalah ruanagn yang digunakan sebagai tempat tidur keluarga dan tempat menginap para tamu. Gandhok ini terletak di bagain kanan dan kiri Pringgitan. Bentuk gandhok ini memanjang serta posisinya berpisah dari bangunan utama/rumah utama.

Gandhok terdiri dari gandhok Kiwo dan Tengen. Gandhok Kiwo/kiri digunakan sebagai ruang tidur para laki-laki. Sedangkan Gandhok Tengen digunakan untuk ruang tidur perempuan. Akan tetapi ada kalanya Gandhok ini digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan.

 

8. Pawon (Dapur)

Pawon (Dapur)

Pawon merupakan kata dari bahasa jawa yang artinya “Dapur”. Pawon ini terletak berpisah dari rumah inti, karena rumah inti di anggap suci dan sakral. Berbeda dengan pawon/dapur yang di dalamnya sangat kotor.

Pada jaman dahulu, proses memasak yang dilakukan hanya menggunakan kayu bakar sebagai sumber bahan bakan. Sehingga dapur ini identik dengan banyaknya abu yang berkumpul disana. Oleh karena itu, pawon ini berasal dari kata dasar awu yang berarti abu.

 

9. Pekiwan (Kamar Mandi dan Toilet)

Pekiwan (Kamar Mandi dan Toilet)

Pekiwan merupakan sebuah kamar mandi dan toilet bagi para penghuninya. Di pekiwan tersebut, ada sumur didekatnya untuk mengambil air. Pekiwan ini juga berpisah dari rumah inti karena diangga sebagai tempat yang kotor dan bau.

 

10. Seketheng (Pagar Rumah)

Seketheng (Pagar Rumah)

Seketheng merupakan dinding pembatas yang terbuat dari batu bata dan memiliki dua gerbang kecil. seketheng ini digunakan sebagai penghubung halaman luar dan dalam rumah, yang sering kita sebut dengan pagar rumah.

Umumnya rumah Joglo ini dibangun dengan kayu jati yang sangat berkualitas. Sehingga bangunan tersebut tidak mudah roboh dan sangat awet, akan tetapi juga sangat mahal. Oleh karena itu, rumah Joglo ini biasanya hanya di bangun oleh masyarakat kalangan atas.

Baca Juga : Belajar Cepat menggambar 3 Dimensi Pakai Pensil

 

Arsitektur Rumah Adat Joglo

Arsitektur Rumah Adat Joglo

Arsitektur rumah adat Joglo ini memiliki dasar struktur Rongrongan yang terbentuk dari beberapa bagian Umpak, Soko Guru, Sunduk, Sunduk Kili, Pengeret, Blandar dan Tumpang Sari. Meskipun strukturnya memiliki banyak bagian, tetap saja rumah Joglo ini lebih dikenal dengan soko guru dan tumpang sarinya.

Terdapat empat buah tiang yang menopang atap di pendopo yang disebut juga dengan nama Tiang Soko Gur atau Sakaning Guru. Empat tiang ini lebih tinggi dari pada tiang-tiang lainnya. Masing-masing tiang ini juga menjadi simbol empat arah mata angin yang mewakili esensi kesempurnaan dan dari sifat manusia.

Walaupun empat tiang tersebut untuk menopang atap, soko guru tersebut tidak langsung bersentuhan dengan atap. Terdapat undakan-undakan atau balok-balok bersusun berada di antara tiang dengan atap. Undakan tersebutlah yang menopang atap pendopo.

Balok-balok tersebut juga memiliki keunikan dengan bentuk segitiga piramida terbalik yang tersusun. Susunan balok-balok tersebut dikenal dengan nama tumpang sari. Tumpang sari inilah yang menopang bagian langit-langit rumah Joglo.

Atap pada rumah Joglo terdiri dari rangkap atap dan penutup atap. Bahan rangkap atap umumnya memakai kayu, baik polos maupun yang dipenuhi dengan ukiran. tergantung dari kemampuan ekonomi yang dimiliki penghuni tersebut. Dan untuk penutup atasnya biasa menggunakan genteng dari tanah liat serta atap sirap.

Atap penutup tersebut memiliki kelebihan, yaitu ringan, kuat, dapat memantulkan panas sehingga membuat ruangan di bawah lebih sejuk dan memberikan penampilan yang lebih cantik. Berikut merupakan beberapa desain rumah Joglo :

Panggang-pe

Desain pada rumah ini hanya memiliki 1 sisi atap yang memanjang dari depan sampai belakang. Desain pada rumah ini memeiliki beberapa jenis, diantaranya yaitu Gedhang, Cere Gancet, Pokok, Trajumas, Kios, Empyak Setangkep, dan Barengan.

Kampung

Pada rumah kampung ini sering kita lihat di perkampungan maupun pedesaan. Atap rumah kampung ini merupakan identifikasi sebagai rumah dari keluarga rakyat biasa. Atap ini merupakan atap yang paling sederhana dari pada yang lainnya.

Atap rumah kampung ini bersandar pada empat tiang tengah dan ditunjang oleh dua la[is tiang pengikat. Bumbungan pada atap didukung oleh penyangga dengan sumbu utara-selatan yang khas. Struktur ini juga dapat diperlebar dari bagian atap yang ada.

Arsitektur pada rumah kampung ini terdiri dari 2 sisi atap, bagian depan dan belakang. dan jenis-jenis rumah ini terdiri juga dari beberapa jenis, seperti Gedhang Selirang, Pokok, Jompongan, Semar, Trajumas, Sinom, Gotong Mayit, Cere Gancet, Apitan, Gajah, Dara Gepak, Pacul Gowang, Strontongan, Baya Mangap, Klabang Nyander, dan Lambang Teplok.

Limasan

Rumah limasan merupakan bangunan yang digunakan oleh anggota keluarga yang memiliki status lebih tinggi, Jenis ini merupakan rumah paling umum untuk daerah jawa. Denah dasar pada empat tiang pun di perluas dan menambahkan salah satu tiang untuk menyangga ujung atap.

Desain ini seperti rumah adat sumatra selatan, akan tetapi sedikit lebih berbeda. Atapnya memiliki 4 sisi kiri dan kanan berbentuk segitiga sama kaki. Sementara pada bagain sisi depan dan belakang berbentuk trapesium.

Rumah limasan terbagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut, yaitu Bapangan, Trajumas, Lambang, Klabang Nyander, Sinom, Apitan, Cere Gancet, Enom, Ceblokan, Gotong Mayit, Empyak Setangkep, dan Semar.

Tajug atau Tarub

Desain rumah Tajug atau Tarub ini tidak memiliki bubungan pada bagian atapnya, sehingga membentuk lancip ke atas. Desai rumah ini merupakan perkembangan sebelum adanya rumah Joglo. Rumah Joglo memiliki 2 atap yang memiliki dua tajug hingga di namakan Tajug Loro/Dua Tajug, dan berkembang namanya menjadi Juglo/Joglo.

Baca Juga : Teknik Rahasia Pada Tenis Meja

 

Rumah Joglo Tempo Dulu dan Masa Kini (Modern)

Rumah adat Joglo tempo dulu dengan masa kini (modern) tidak memiliki perbedaan yang besar. Hanya saja ditambahkan beberapa hiasan yang memberikan suasana menjadi lebih modern. Berikut merupakan gambar rumah adat Joglo tempo dulu dengan masa kini :

Rumah Joglo Tempo Dulu 2
Rumah Joglo Tempo Dulu 2
Rumah Joglo Tempo Dulu 1
Rumah Joglo Tempo Dulu 1
Rumah Joglo Masa Kini (Modern) 1
Rumah Joglo Masa Kini (Modern) 1
Rumah Joglo Masa Kini (Modern) 2
Rumah Joglo Masa Kini (Modern) 2

Video Terkait Joglo Modern : Home Feels Likes a Resort – umah Joglo Irfan Hakim

*NB : Untuk mendalami pengetahuan serta wawasan dalam kehidupan, anda bisa pilih menu “Informasi” diatas.

_________________________________________

Penutup

Oke, itulah penjelasan dari rumah adat yang ada di pulau jawa. Bagaimana? sangat sederhana dan mengagumkan bukan. Terima kasih telah mengunjungi Artikel kami. Jika ada kekurangan maupun kesalahan, silahkan memberikan masukan pada kolom komentar di bawah. Terima kasih telah membaca.

_________________________________________

Rumah Adat Jawa Tengah (Joglo) dan 6 Arsitektur Terkenal Sederhana

 

Mari mendalami tentang Rumah Adat di Indonesia lebih dalam lagi :

  • 1. 25+ Rumah Adat Tradisional di Indonesia | Full Gambar. Klik Disini

 

Jangan Lupa Juga Untuk Mengunjungi Channel YouTube Kami :

Yakin Gak Mau Komen?

%d blogger menyukai ini: